Aturan Menggunakan Baju Batik

Mengenakan baju batik memang merupakan suatu hal yang bagus. Karena dengan menggunakannya, penampilan Anda menjadi lebih cantik dan menarik sekaligus mengartikan bahwa Anda turut serta dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. Batik memang merupakan budaya yang sudah meluas eksistensinya, baik di Indonesia maupun dikancah internasional. Akan tetapi, Anda tidak boleh lupa, bahwa batik memiliki nilai-nilai budaya dari para leluhur masyarakat Indonesia. Sebut saja batik keraton. Keraton merupakan daerah atau tempat tinggal penguasa atau raja dan ratu. Di Indonesia, terdapat satu keraton yang sangat terkenal, yaitu Keraton Yogyakarta. Keraton merupakan salah satu tempat yang membesarkan budaya batik di Indonesia. Bahkan, dalam masyarakat keraton jawa, membatik – entah itu melukis batik atau membuat baju batik – dianggap sebagai bentuk pengabdian kepada raja.

Motif yang Terlarang

Baju batik keraton merupakan baju yang digunakan dan dikembangkan dilingkungan keraton. Hal ini disebabkan karena motif baju batik keraton ini dibuat dengan menerapkan aturan atau norma-norma keraton yang berlaku. Selain motifnya, pembuatan baju batik keraton ini juga tidak sembarangan. Proses pembuatannya menggunakan serangkaian ritual-ritual yang sakral sehingga memiliki esensi yang begitu tinggi. Oleh karena itulah, ada beberapa baju batik yang tidak boleh digunakan secara umum dilingkungan keraton. Baju batik tersebut hanya boleh digunakan oleh orang-orang atau kalangan tertentu saja dilingkungan keraton. Misalnya adalah baju batik motif parang. Segala jenis motif parang tidak boleh digunakan secara sembarangan dilingkungan keraton, baik itu Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gandreh, Parang Klitih, dll. Untuk itu, apabila Anda ingin mengunjungi keraton, sebaiknya Anda menghindari penggunaan baju batik bermotifkan parang. Akan tetapi, Anda dapat menggunakannya jika tidak berada dilingkungan keraton.

Hal ini disebabkan karena makna yang sangat dalam untuk motif batik parang. Misalnya saja, untuk baju batik motif parang memiliki makna bahwa seorang raja harus selalu berhati-hati dalam mengendalikan diri. Baik mengendalikan diri secara lahir maupun batin sehingga dapat menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab, berwatak, dan berbudi luhur yang Agung.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*